Babak Baru Terowongan Geurutee: Bappenas Turun Tangan, PUPR Aceh Bidik Investor Global
Wacana pembelahan pegunungan Paro, Kulu, dan Geurutee bukan hal baru. Gagasan ini telah bergulir kuat sejak 2015 sebagai respons atas tingginya angka fatalitas kecelakaan dan longsor di tebing pesisir pantai barat Aceh. Kini, gagasan tersebut mulai berubah wujud menjadi dokumen teknis. Pemerintah Aceh melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh secara resmi mematok proyek ini sebagai prioritas strategis daerah.
Tebing curam bersisian langsung dengan jurang menganga menyimpan ancaman permanen. Solusi aspal lapis ulang tak lagi relevan untuk mengatasi kontur tanah yang labil. Dokumen usulan konstruksi terowongan telah diserahkan langsung kepada Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta. Tujuannya meraup alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ini langkah esensial. Nyawa pelintas adalah taruhan utamanya.
Sembilan Tahap Menuju Konstruksi
Respons pusat mulai terlihat nyata. Tim teknis Bappenas bersama otoritas daerah telah merampungkan sejumlah tinjauan lapangan awal di perbatasan Aceh Besar dan Aceh Jaya. Berdasarkan catatan perencanaan Dinas PUPR Aceh, eksekusi fisik membutuhkan landasan presisi. Proyek raksasa ini mewajibkan penyelesaian sembilan tahapan prosedural yang sangat ketat.
Pemerintah menargetkan penyelesaian menyeluruh dari kajian AMDAL, studi kelayakan geologi batuan, hingga pematangan Detail Engineering Design (DED) sebelum alat berat dikerahkan.
Kendala terbesar bermuara pada besaran modal. Kapasitas APBN dan APBA butuh sokongan kuat. Menyikapi hal ini, Dinas PUPR Aceh membuka keran penjajakan dengan investor luar negeri. Salah satu nama yang masuk dalam radar kerja sama investasi adalah entitas penyedia jasa konstruksi global, China Railway Construction Corporation Limited (CRCC).
Manuver pembiayaan terus diakselerasi. Alternatif skema investasi menjadi kunci penentu.
Urat Nadi Delapan Kabupaten
Infrastruktur ini bukan semata memotong jarak tempuh geografis. Jalur pegunungan ini merupakan pembuluh darah ekonomi utama bagi delapan kabupaten dan kota di kawasan Barat–Selatan (Barsela) Aceh. Catatan sejarah distribusi logistik wilayah ini terlalu sering diwarnai tragedi. Truk pengangkut hasil bumi terguling. Rantai pasok terputus akibat bongkahan batu gunung yang menutup aspal.
Pemangkasan waktu tempuh melalui terowongan diproyeksikan menekan biaya logistik secara masif, bermuara pada stabilisasi harga barang dan akselerasi daya beli masyarakat pesisir.
Pembangunan Terowongan Geurutee adalah instrumen keadilan infrastruktur yang sudah lama dinanti. Jika kajian Bappenas dan investor global mencapai kesepakatan DED, Aceh akan memiliki salah satu terowongan pegunungan terpanjang di Sumatra. Sebuah warisan rekayasa sipil yang pada akhirnya memanusiakan jalur lintasan.