Lompat ke Konten Utama

Nagan Raya Lawan Arus Digitalisasi Lewat Buku

Pewarta Redaksi
Pengunjung meneliti lembaran buku dalam pembukaan Festival Literasi Kabupaten Nagan Raya di Kompleks Perkantoran Suka Makmue.
Pengunjung meneliti lembaran buku dalam pembukaan Festival Literasi Kabupaten Nagan Raya di Kompleks Perkantoran Suka Makmue.

Lanskap pelataran Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Nagan Raya mendadak riuh. Ratusan pasang mata tertuju pada tumpukan pustaka yang berjejer di stan-stan pameran. Pemerintah daerah setempat sedang bertaruh dengan waktu. Mereka mencoba membalikkan keadaan di mana layar sentuh telah mereduksi konsentrasi membaca masyarakat menjadi sekadar potongan video pendek berdurasi belasan detik.

Wakil Bupati Nagan Raya, Raja Sayang, melangkah mantap menuju mimbar pada Selasa pagi. Ketukan palu yang ia bunyikan bukan sekadar seremonial pembukaan acara. Bunyi itu menandai dimulainya gerakan restrukturisasi budaya membaca yang menyasar akar rumput terkecil, yakni gampong. Pemerintah daerah menyadari bahwa menumbuhkan minat baca tidak bisa dilakukan dari atas menara gading.

Transformasi literasi harus dimulai dari berfungsinya ruang baca di pelosok desa, bukan sekadar ruang pajang buku berdebu.

Data indeks pembangunan literasi di berbagai daerah seringkali timpang antara fasilitas yang dibangun dengan pemanfaatan riil oleh publik. Nagan Raya mencoba mendobrak anomali ini. Festival yang dijadwalkan berlangsung hingga pertengahan pekan tersebut tidak dirancang sebagai panggung pidato. Pendekatan yang diambil lebih taktis, mempertemukan para pengelola perpustakaan gampong, akademisi, dan aparatur desa dalam satu ruang diskusi terarah.

Kehadiran para guru pengelola perpustakaan sekolah dan pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menjadi motor penggerak. Mereka adalah ujung tombak yang berhadapan langsung dengan anak-anak yang perhatiannya telah terpecah oleh algoritma media sosial. Tantangan terbesar saat ini adalah relevansi. Ketika buku yang tersedia di desa tidak mampu menjawab rasa ingin tahu generasi muda, perpustakaan akan segera bertransisi menjadi gudang usang.

Profesor Jamaluddin dari Universitas Malikussaleh, bersama akademisi Universitas Syiah Kuala Profesor Zulfadhli A. Aziz, menyoroti pentingnya kurasi konten lokal. Masyarakat membutuhkan bacaan yang menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari. Bedah buku yang mengangkat tema domestik menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk membuktikan bahwa teks tertulis masih memiliki daya pikat yang kuat dalam membedah problem sosial.

Sektor ekonomi mikro turut mendapat ruang di sudut arena. Barisan produk pelaku UMKM lokal berjejer di sepanjang lokasi acara. Ini adalah taktik integrasi yang cerdas. Menghadirkan pasar di lingkungan literasi secara psikologis meruntuhkan persepsi bahwa perpustakaan adalah tempat yang kaku dan membosankan. Ruang publik harus organik agar warga merasa memiliki aktivitas di dalamnya.

Mendongkrak indeks literasi masyarakat membutuhkan konsistensi kebijakan alokasi dana desa untuk sektor pengetahuan.

Anak-anak tingkat sekolah dasar terlihat antusias mengikuti kompetisi bertutur yang digelar di panggung utama. Melalui penuturan lisan, struktur berpikir anak-anak sedang diasah. Mereka dipaksa untuk memahami plot, karakter, dan pesan moral dari sebuah buku, kemudian merangkumnya menjadi sebuah pertunjukan yang hidup. Langkah kecil ini adalah investasi jangka panjang.

Komitmen Pemkab Nagan Raya kini diuji pada tahap pasca-festival. Keberlanjutan pojok baca gampong akan sangat bergantung pada komitmen aparatur desa dalam menyisihkan anggaran pemeliharaan dan pembaruan koleksi buku. Jika setelah pekan ini antusiasme surut, maka festival ini hanya akan menjadi catatan laporan serapan anggaran tanpa dampak konkret pada kecerdasan komunal.

Bagikan Laporan: