Air Mata Soekarno & Emas Seulawah: Sejarah Pahit Aceh
Buku sejarah nasional kerap mendiktekan heroisme tunggal seorang Soekarno. Figur sang proklamator dibingkai suci tanpa cacat. Realitas di ujung barat Sumatra justru memutarbalikkan dogma sentralistik tersebut. Di Serambi Mekkah, rekam jejak itu menyimpan bau amis manuver politik yang manipulatif.
Jauh sebelum entitas republik ini lahir, Kesultanan Aceh Darussalam telah tegak setara dengan imperium global. Ulama dan rakyatnya memiliki muruah tinggi. Mereka bergerak merdeka melawan kolonialisme melalui Maklumat 15 Oktober 1945 atas inisiatif mandiri. Bukan karena tunduk pada komando ibu kota.
Agresi Militer Belanda kemudian melumpuhkan jantung negara. Soekarno kehilangan taji. Ia mendarat di Kutaraja pada Juni 1948 dengan wajah memelas. Sang presiden datang bukan sebagai pemimpin absolut, melainkan pesakitan politik yang kehabisan modal dan butuh pertolongan darurat.
Beranda Hotel Atjeh menjadi saksi bisu air mata sang presiden yang mengobral janji otonomi demi memohon belas kasihan.
Rakyat lokal merespons tangisan itu dengan ketulusan yang fatal. Kaum perempuan melucuti perhiasan emas mereka tanpa ragu. Dana swadaya mengalir deras menjelma menjadi sayap peswat Dakota RI-001 Seulawah. Kendaraan udara ini sukses menembus blokade internasional. Indonesia terselamatkan dari jurang kejatuhan total.
Topeng Persatuan yang Terbongkar
Kedermawanan luar biasa itu dibayar dengan tuba. Begitu cengkeraman kekuasaan di Jakarta kembali kokoh, topeng manis itu dilepas. Memasuki awal 1950, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 5, janji otonomi Aceh diberangus paksa tanpa ruang diskusi.
Wilayah heroik yang tak pernah tertembus invasi militer Belanda ini diturunkan kasta. Identitas politiknya dilebur buta ke dalam Provinsi Sumatra Utara. Manuver ini jelas bukan sekadar kekeliruan administratif. Ini adalah taktik licik terencana untuk mengebiri kekuatan daerah yang merasa berhak menagih utang budi.
Kesabaran masyarakat memiliki batas. Teungku Daud Beureueh menjawab pengkhianatan telanjang itu dengan letusan senjata pada 1953. Pemberontakan Darul Islam (DI/TII) meletus merobek keheningan. Darah tumpah merendam bumi rencong akibat arogansi kekuasaan pusat.
Tragedi berdarah ini membuktikan bahwa kelicikan politik di Jakarta adalah patogen utama penghancur harmoni kebangsaan.
Narasi sejarah harus mulai ditulis ulang dengan nyali. Menyanjung figur sejarah secara membabi buta hanya akan mengubur jerit korban ketidakadilan. Soekarno mungkin berdiri sebagai pahlawan bagi sebagian orang. Namun bagi Aceh, torehan sejarahnya meninggalkan luka pengkhianatan yang paling purba.