Lompat ke Konten Utama

Munafik Gaya Hidup Slow Living di Jakarta: Kemewahan yang Elitis

Miftah Allina
Munafik Gaya Hidup Slow Living di Jakarta: Kemewahan yang Elitis

Romantisasi Kemiskinan Berkedok Menikmati Hidup

Media sosial sukses mengubah pelarian dari rutinitas menjadi komoditas estetika yang mahal. Narasi yang dibangun sering kali mendiskreditkan kerja keras dan memuja ketenangan palsu di ruang digital.

Kampanye tren gaya hidup slow living saat ini lupa bahwa pilihan untuk mengabaikan gawai membutuhkan jaring pengaman finansial yang kuat. Bagi buruh pabrik atau pekerja alih daya di Jakarta, berhenti mengejar target harian berarti tidak ada makanan di atas meja besok pagi.

Menyedu kopi manual di pagi hari tanpa terburu-buru adalah sebuah privilese kelas, bukan pilihan spiritual murni. Gerakan ini perlahan menjadi bentuk romantisasi kejenuhan yang dipoles agar terlihat puitis di layar ponsel.

Industri Kapitalis yang Menunggangi Kesadaran Palsu

Ironisnya, gerakan yang awalnya menentang konsumerisme ini justru melahirkan pasar baru yang tidak kalah konsumtif. Industri dengan cepat memanfaatkan kelelahan mental pekerja untuk menjual produk pendukung bernilai tinggi.

Konsep melambat telah bermutasi dari gerakan kesehatan mental menjadi komoditas gaya hidup premium yang diskriminatif.

Masyarakat kini didorong membeli pakaian berbahan organik dengan harga selangit atau furnitur minimalis demi mendapatkan label hidup tenang. Kita tidak sedang menyelesaikan masalah kesehatan mental, melainkan hanya mengganti merek barang yang kita konsumsi.

Melambat Menjadi Privilese Mereka yang Sudah Kaya

Meminta seorang pekerja komuter yang menghabiskan empat jam di jalan setiap hari untuk hidup santai adalah sebuah penghinaan nyata. Realitas urban di Jakarta dibentuk oleh sistem yang memaksa mobilitas tinggi dan kompetisi yang ketat.

Ketenangan batin tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki tabungan melimpah. Kampanye hidup lambat yang ada saat ini justru memperlebar jurang pemisah antar-kelas sosial secara tidak sadar.

Tanpa adanya perbaikan sistem kerja dan upah yang layak, konsep melambat hanya akan menjadi pelarian egois kelas atas.

Kita harus berhenti mengagungkan tren ini sebagai solusi massal untuk mengatasi kelelahan mental masyarakat kota. Sudah saatnya kita menuntut keadilan waktu dan ruang hidup yang manusiawi bagi semua kelas pekerja, bukan sekadar membeli estetika hidup tenang yang semu.

Bagikan Laporan:
WhatsApp
Miftah Allina
Pewarta Redaksi

Miftah Allina

Menulis fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikan berita secara jelas serta berimbang.

ara - Layanan AI. V1

ara

Layanan AI.V1