Lompat ke Konten Utama

Dunia Sepak Bola Berduka, Franco Baresi Meninggal Dunia

Wildan
Dunia Sepak Bola Berduka, Franco Baresi Meninggal Dunia

Stadion San Siro mendadak hening. Kibaran bendera merah-hitam yang biasa perkasa kini berkibar setengah tiang. Kota Milan dirundung duka yang teramat dalam. Sang kapten abadi, Franco Baresi, telah pergi untuk selamanya.

Klub raksasa Italia, AC Milan, mengonfirmasi kabar duka ini secara resmi. Baresi meninggal dunia pada usia 66 tahun di sebuah rumah sakit di Rozzano, Milan. Kabar ini sekaligus mengakhiri spekulasi liar yang sempat beredar di jagat maya mengenai kondisi kesehatannya.

Sejak Agustus 2025, Baresi berjuang keras melawan kanker paru-paru. Penyakit mematikan ini terdeteksi setelah ia menjalani operasi pengangkatan nodul paru. Ia menghadapi penyakitnya dengan keteguhan yang sama seperti saat ia mengawal lini pertahanan Rossoneri semasa menjadi pemain. Namun, takdir berkata lain pada Jumat akhir Juli ini.

Warisan Abadi Sang Libero Terbaik Dunia

Baresi bukan sekadar pesepak bola biasa. Ia adalah perwujudan dari loyalitas mutlak yang kian langka dalam industri sepak bola modern. Selama dua dekade karier profesionalnya, ia hanya mengenakan satu seragam klub. Komitmen tanpa pamrih ini menjadikannya simbol tertinggi seorang One-Club Man.

Dunia akan selalu mengingatnya sebagai seniman bertahan. Sebagai seorang libero atau sweeper, ia tidak mengandalkan fisik yang kekar atau tekel yang kasar. Keunggulan Baresi terletak pada kecerdasan membaca permainan. Langkahnya anggun namun mematikan bagi penyerang lawan. Ia mendikte permainan dari lini paling belakang.

Kepemimpinannya di lapangan sangat karismatik. Ban kapten melingkar di lengannya selama 15 musim beruntun. Di bawah komandonya, AC Milan bertransformasi menjadi tim yang paling ditakuti di daratan Eropa pada akhir dekade 1980-an dan awal 1990-an. Tiga trofi Liga Champions dan enam gelar juara Serie A menjadi bukti sahih dominasinya.

Kontribusinya tidak berhenti di level klub saja. Bersama tim nasional Italia, ia mencicipi trofi emas Piala Dunia 1982. Salah satu momen paling heroik dalam kariernya terjadi pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Hanya 25 hari setelah operasi lutut yang parah, ia tampil penuh selama 120 menit di laga final melawan Brasil. Pengorbanan fisik yang luar biasa demi kehormatan negara.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasinya, AC Milan telah mempensiunkan nomor punggung 6 miliknya. Tidak akan pernah ada lagi pemain Milan yang memakai nomor tersebut. Angka enam telah terkunci bersama nama besar Franchino Baresi di dalam buku sejarah klub.

Kepergiannya meninggalkan lubang besar yang sulit tergantikan. Penghormatan dan ucapan belasungkawa terus mengalir dari seluruh penjuru dunia. Mulai dari mantan rekan setimnya, Paolo Maldini, hingga klub rival abadi, Inter Milan. Mereka semua menaruh hormat yang setinggi-tingginya kepada sang maestro.

Sejak tahun 2020, Baresi mengemban amanah sebagai Wakil Presiden Kehormatan AC Milan. Ia terus menginspirasi generasi muda klub hingga akhir hayatnya. Raganya mungkin telah tiada, namun warisan taktik, kepemimpinan, dan kesetiaannya akan tetap hidup selamanya di hati para pencinta sepak bola dunia. Selamat jalan, Il Capitano.

Dokumentasi Visual

Dokumentasi Visual
Bagikan Laporan:
WhatsApp
Wildan
Pewarta Redaksi

Wildan

Jurnalis muda yang meliput isu daerah, ekonomi, dan kehidupan masyarakat dengan pendekatan faktual, berimbang, serta berorientasi pada kepentingan publik.

ara - Layanan AI. V1

ara

Layanan AI.V1