Lompat ke Konten Utama

Populasi Satwa Langka di Hutan Aceh Kritis

Baskara
Harimau sumatera di dalam kawasan hutan Aceh yang kini populasinya kian terancam.
Harimau sumatera di dalam kawasan hutan Aceh yang kini populasinya kian terancam.

Kondisi satwa liar di wilayah perlindungan dipastikan kian mengkhawatirkan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama sejumlah lembaga konservasi nasional melaporkan angka populasi satwa langka di hutan Aceh saat ini berada dalam status sangat kritis.

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi habitat terakhir yang paling dipertaruhkan. Wilayah ini merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana empat mamalia besar global seperti gajah, badak, orangutan, dan harimau hidup bersama di alam liar. Namun, keberadaan mereka kini terus terhimpit oleh berbagai ancaman kerusakan lingkungan.

Data monitoring terbaru menunjukkan penurunan angka yang sangat signifikan pada sektor mamalia besar. Orangutan sumatera (Pongo abelii) saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 9.000 hingga 11.000 individu. Meski hutan Aceh masih menampung 84 persen dari total populasi global spesies tersebut, tekanan terhadap habitat mereka belum mereda.

Hutan Aceh menampung 84 persen populasi orangutan sumatera global.

Kondisi yang jauh lebih parah menimpa kelompok mamalia darat lainnya. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di wilayah Aceh kini hanya berkisar antara 500 hingga 600 ekor. Sementara itu, populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang tersebar di blok hutan Leuser dan Ulu Masen diperkirakan tersisa 150 hingga 170 individu.

Spesies yang berada di ambang kepunahan paling dekat adalah badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Jumlah mamalia bercula dua ini diperkirakan kurang dari 30 hingga 40 ekor saja di seluruh kawasan. Faktor sebaran yang terisolasi akibat fragmentasi hutan membuat peluang mereka untuk bertemu dan berkembang biak secara alami menjadi sangat kecil.

Populasi badak sumatera di Aceh kini kurang dari 40 ekor.

Selain mamalia besar, tren penurunan populasi juga terjadi pada spesies endemik lokal seperti primata kedih (Presbytis thomasii) dan burung rangkong papan (Buceros bicornis). Aktivitas pembukaan lahan hutan untuk perkebunan, konflik ruang dengan warga, serta maraknya pemasangan jerat oleh pemburu liar menjadi pemicu utama rusaknya ekosistem ini. Upaya penyelamatan ruang hidup satwa harus segera ditingkatkan demi mencegah hilangnya keanekaragaman hayati tersebut secara permanen

Bagikan Laporan:
WhatsApp
Baskara
Pewarta Redaksi

Baskara

Adat meuköh reubông, hukôm meuköh purieh, Adat jeuet barangho takông, hukôm han jeuet barangho takieh

ara - Layanan AI. V1

ara

Layanan AI.V1