Blokade Selat Hormuz Picu Perang Rudal AS-Iran di Teluk
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran ke wilayah pesisir selatan dan barat Iran pada Senin (13/7/2026). Langkah militer ini menghancurkan infrastruktur rudal, drone, dan pengawasan milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pemboman terjadi setelah Iran secara sepihak mendeklarasikan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial. Ketegangan meningkat saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatasan penuh terhadap pelabuhan Iran dan berencana memungut biaya tol bagi kapal asing di selat tersebut.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran merespons dengan mengancam akan menenggelamkan setiap kapal yang melintas. Sebelum serangan udara, Angkatan Laut AS mengonfirmasi telah menghancurkan 16 kapal peletak ranjau milik IRGC di perairan internasional.
Serangan udara militer AS yang menggunakan amunisi berat deep penetrator seberat 5.000 pon mengguncang wilayah Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Sirik, Jask, dan Bushehr. Fasilitas militer di Chabahar dan Isfahan juga dilaporkan mengalami pemadaman listrik total serta menimbulkan korban jiwa.
Iran membalas serangan udara tersebut dengan menembakkan gelombang rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Bahrain, Yordania, Kuwait, dan Oman.
Rudal IRGC menyasar Pangkalan Angkatan Laut Sheikh Isa di Bahrain yang menjadi rumah Armada ke-5 AS. Depot amunisi di Pangkalan Udara Prince Hassan Yordania, Pangkalan Ali Al Salem Kuwait, serta sistem radar di Oman turut menjadi target gempuran.
Konfrontasi langsung ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat terancamnya jalur logistik energi global di Selat Hormuz. Jalur negosiasi tidak resmi saat ini tengah diupayakan oleh mediator regional di Pakistan dan Oman.
Pentagon mengonfirmasi pengerahan 2.500 pasukan Marinir tambahan ke Timur Tengah untuk memperkuat posisi Amerika Serikat.
Menulis fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikan berita secara jelas serta berimbang.