Biji Jagung Keluar Utuh Saat BAB Ternyata Normal
Mengonsumsi jagung manis rebus sering kali menyisakan fenomena unik yang disadari oleh banyak orang setelah mereka keluar dari toilet. Banyak yang tidak mengira, alasan mengapa biji jagung sering kali keluar utuh saat kita buang air besar (BAB) bukanlah tanda dari gejala penyakit pencernaan yang buruk.
Para ahli gastroenterologi menjelaskan bahwa fenomena fisik ini sepenuhnya normal dan merupakan hal yang wajar terjadi pada anatomi manusia. Penyebab utamanya terletak pada struktur anatomi dari biji jagung itu sendiri yang dilapisi oleh dinding sel yang sangat tangguh. Lapisan kuning tipis di bagian luar biji jagung tersebut tersusun atas serat tak larut bernama selulosa.
Sistem pencernaan manusia, mulai dari asam lambung hingga cairan empedu di usus, dirancang untuk mengurai berbagai macam nutrisi makanan secara kimiawi. Namun, tubuh manusia secara biologis tidak memproduksi enzim selulase, yaitu enzim khusus yang diperlukan untuk memutus ikatan molekul selulosa tumbuhan. Akibatnya, lapisan kulit luar jagung tersebut tetap kokoh bertahan melintasi seluruh jalur pencernaan tanpa mengalami kerusakan fisik yang berarti.
Tubuh manusia secara biologis tidak memiliki enzim selulase untuk menghancurkan kulit luar jagung.
Meskipun terlihat keluar dalam bentuk butiran utuh yang utuh, bagian dalam biji jagung tersebut sebenarnya telah kosong. Melalui proses pengunyahan di mulut, gigi manusia telah memecah tekstur bagian dalam jagung sehingga nutrisi penting di dalamnya tetap terserap optimal oleh tubuh. Lapisan kuning yang terlihat pada feses hanyalah kantong kulit luar kosong yang kemudian terisi kembali oleh gas atau cairan usus selama proses eliminasi limbah.
Nutrisi di dalam jagung tetap terserap tubuh meskipun kulit luarnya keluar dalam kondisi utuh.
Fakta medis ini sekaligus membuktikan bahwa keberadaan serat tak larut dari jagung sangat bermanfaat bagi kesehatan. Serat selulosa yang tidak hancur ini berfungsi sebagai pendorong alami yang membantu melancarkan gerakan peristaltik usus besar. Efek mekanis tersebut mempermudah proses pembuangan kotoran secara berkala sekaligus mencegah risiko terjadinya sembelit kronis pada sistem pencernaan.