Rasa Pedas Ternyata Bukan Rasa di Lidah Kita
Bagi masyarakat Indonesia, menyantap makanan tanpa sensasi membakar dari cabai rasanya belum lengkap. Namun, dalam dunia sains dan anatomi tubuh manusia, banyak yang tidak mengira bahwa rasa pedas sebenarnya bukan rasa di lidah kita, melainkan sebuah bentuk alarm rasa sakit yang salah diartikan oleh otak.
Secara biologis, lidah manusia hanya memiliki reseptor untuk mendeteksi lima rasa dasar, yaitu manis, asin, asam, pahit, dan umami atau gurih. Sensasi terbakar setelah memakan cabai sama sekali tidak melibatkan kuncup pengecap (taste buds) tradisional tersebut. Fenomena ini murni merupakan hasil interaksi kimiawi antara senyawa makanan dengan sistem saraf.
Pemicu utama dari sensasi ini adalah zat kimia bernama capsaicin yang banyak terkandung pada biji dan urat cabai. Saat mengonsumsi makanan pedas, senyawa capsaicin ini akan mengikatkan diri pada reseptor saraf khusus bernama TRPV1 yang tersebar di seluruh permukaan lidah dan rongga mulut. Reseptor TRPV1 ini fungsi aslinya adalah mendeteksi suhu panas fisik di atas 43 derajat Celsius dan mengirimkan sinyal bahaya ke otak.
Capsaicin mengelabui reseptor saraf suhu untuk mengirimkan sinyal panas palsu ke otak.
Ketika capsaicin menempel, otak tertipu dan mengira bahwa rongga mulut sedang terbakar oleh api atau air mendidih. Sebagai respons pertahanan, otak segera memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan keringat, membuat hidung meler, serta memicu detak jantung yang lebih cepat guna mendinginkan suhu tubuh yang sebenarnya normal.
Tubuh mengeluarkan keringat dan air mata sebagai respons pertahanan mendinginkan suhu tubuh.
Mekanisme tipuan saraf inilah yang menjelaskan mengapa meminum air dingin jauh lebih efektif meredakan efek pedas daripada air hangat. Air dingin membantu menenangkan reseptor suhu yang sedang mengalami kepanikan palsu akibat stimulasi kimia tersebut.