Lompat ke Konten Utama

Dari Canva ke ChatGPT: Kelatahan Desain AI dan Lahirnya Tong Sampah Visual di Linimasa

Miftah Allina
Ketika kemalasan bertemu dengan teknologi: Admin media sosial kerap menjadikan hasil mentah AI sebagai materi promosi yang justru memicu kelelahan visual pada audiens.
Ketika kemalasan bertemu dengan teknologi: Admin media sosial kerap menjadikan hasil mentah AI sebagai materi promosi yang justru memicu kelelahan visual pada audiens.

Gurita kosmis melilit mangkuk porselen raksasa yang memancarkan pendar neon ungu. Di atasnya, potongan sosis dan kerupuk seblak melayang melawan gravitasi, dibingkai oleh percikan kuah cabai hiper-realistis beresolusi 4K. Teks promonya meliuk-liuk dengan font yang menyerupai hieroglif alien. Resolusinya tajam, warnanya menyilaukan, dan secara keseluruhan: memuakkan.

Di sebuah kamar indekos yang temaram, Raka (23) tidak peduli. Jari telunjuknya dengan santai menekan tombol 'Bagikan' di Instagram Kopi & Seblak milik kliennya.

Setahun yang lalu, Raka dan ribuan admin media sosial kelas menengah ke bawah lainnya tidak akan berani bermimpi membuat gambar sekompleks ini. Senjata pamungkas mereka hanyalah templat gratisan dari Canva atau sedikit sentuhan Photoshop bajakan. Modalnya sekadar foto produk dari kamera ponsel, ditimpa efek vignette hitam pekat di pinggiran supaya terlihat dramatis, lalu ditempel teks "Diskon 50%" di tengah layar. Kaku, membosankan, tapi fungsional. Mata manusia masih bisa membaca niat jualan di baliknya.

Lalu datanglah gelombang FOMO (Fear of Missing Out) akibat fitur pembuat gambar ChatGPT dan Midjourney. Standar industri tiba-tiba dibajak oleh kemalasan.

Para admin ini mendadak merasa seperti direktur seni. Alih-alih belajar tentang teori warna atau hierarki visual, mereka cukup mengetik "make it epic, super detailed, cinematic lighting" dan mesin akan memuntahkan gambar gila-gilaan dalam hitungan detik. Anehnya, hasil mentah yang belum dikurasi inilah yang justru ditelan mentah-mentah dan dipajang sebagai etalase promosi utama UMKM hingga merek korporat.

"Ini bukan desain, ini muntahan mesin," dengus Tiar (38), seorang desainer grafis senior di sebuah agensi periklanan, menatap sinis ke layar tabletnya saat kami mengopi di kawasan Selatan. "Dulu kita pusing ngadepin anak magang yang font-nya tabrakan. Sekarang kita disuguhin gambar AI yang nggak punya 'ruang napas'. Terlalu semak. Mata audiens itu capek dijejali detail plastik begini. Yang ada, promo lu malah di-skip secepat kilat karena otak otomatis menganggap itu sampah."

Di sinilah letak ironinya. AI secara default memang dikonfigurasi untuk pamer otot—menjejali semua ruang kosong (white space) dengan objek untuk membuktikan kemampuannya memproses bahasa. Ketika gambar "semak" ini dipakai sebagai medium komunikasi komersial tanpa adanya pisau sunting dari manusia, fungsinya mati. Audiens tidak melihat pesan promosi; mereka hanya melihat polusi visual yang berteriak meminta perhatian.

Teknologi seharusnya meninggikan standar estetika, bukan sekadar memberikan jalan pintas bagi orang malas untuk memproduksi polusi visual secara massal.

Ketika linimasa kita berubah menjadi karnaval gambar plastis yang riuh dan memekakkan mata, kerinduan pada desain minimalis yang manusiawi justru kembali menguat. Sialnya, bagi Raka dan generasi admin FOMO lainnya, menekan satu tombol generate jauh lebih menggoda daripada harus berpikir keras menyusun pesan yang sebenarnya bermakna.

Bagikan Laporan:
WhatsApp
Miftah Allina
Pewarta Redaksi

Miftah Allina

Menulis fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikan berita secara jelas serta berimbang.

ara - Layanan AI. V1

ara

Layanan AI.V1