Nasionalisme yang Tumbuh dari Musyawarah dan Gotong Royong di Tengah Acara Keluarga
Kalau mendengar kata nasionalisme, kebanyakan orang mungkin langsung kepikiran soal upacara bendera, lagu kebangsaan, atau hal-hal yang berhubungan dengan negara. Nasionalisme sering dipahami sebagai sesuatu yang besar, resmi, dan identik dengan simbol-simbol kenegaraan. Padahal, menurut saya, nasionalisme tidak selalu harus dilihat dari hal-hal seperti itu. Kadang, nasionalisme justru hadir dalam kehidupan sehari-hari, lewat kebiasaan sederhana yang sering kita anggap biasa saja.
Saya sendiri sempat berpikir kalau nasionalisme itu ya seputar upacara, peringatan hari kemerdekaan, atau rasa bangga terhadap Indonesia. Tapi belakangan saya sadar, ada bentuk nasionalisme lain yang lebih dekat dengan kehidupan kita, bahkan bisa ditemukan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Bukan dalam bentuk pidato atau upacara, melainkan lewat kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong. Hal itu saya rasakan sendiri saat keluarga saya sedang menyiapkan acara pernikahan abang saya.
Saat abang saya akan menikah, rumah kami mulai sibuk dengan berbagai persiapan. Seperti kebiasaan di kampung, sebelum acara besar dimulai biasanya keluarga akan mengundang beberapa orang kampung ke rumah untuk duduk rapat bersama. Begitu juga di rumah saya. Ayah dan ibu mengundang beberapa orang untuk datang ke rumah, duduk bersama, lalu membahas persiapan acara pernikahan abang saya.
Malam itu, satu per satu orang mulai datang. Ada yang duduk di ruang tamu, ada juga yang sambil ngobrol santai menunggu rapat dimulai. Suasana rumah jadi terasa lebih hidup dari biasanya. Dari luar, rapat seperti itu mungkin kelihatan biasa saja, cuma kumpul-kumpul sebelum acara keluarga. Tapi sebenarnya, rapat itu penting sekali supaya semua persiapan acara bisa dibahas dari awal dan semuanya jelas.
Dalam rapat itu, yang dibahas banyak hal. Mulai dari siapa yang akan memasak, siapa yang akan menyiapkan nasi untuk tamu, siapa yang akan mencuci piring, siapa yang akan menjaga tamu saat hari acara, sampai siapa yang akan menyambut tamu yang datang. Biasanya yang memasak bukan tuan rumah sendiri, tapi ibu-ibu tetangga yang ikut membantu. Jadi, acara keluarga seperti pernikahan itu memang tidak dikerjakan sendiri oleh keluarga yang punya acara, tapi dikerjakan bersama-sama.
Semua itu memang harus ditentukan dalam rapat. Soalnya, kalau semuanya diserahkan ke tuan rumah saja, pasti capek sekali. Tuan rumah sudah sibuk dengan banyak urusan, mulai dari tamu, persiapan keluarga, sampai jalannya acara. Kalau urusan masak, cuci piring, jaga tamu, dan hal-hal lain juga harus ditanggung sendiri, tentu akan terasa berat. Karena itu, musyawarah seperti ini penting supaya tugas bisa dibagi dan semua pekerjaan jadi lebih ringan.
Dari situ saya mulai sadar kalau acara keluarga di kampung bukan cuma soal pesta atau perayaan saja. Di balik sebuah acara, ada kebersamaan yang ikut bekerja. Ada orang-orang yang datang bukan hanya untuk makan atau hadir sebagai tamu, tapi juga untuk membantu. Ada ibu-ibu yang rela meluangkan waktu untuk memasak, ada yang mau repot mencuci piring, ada yang menjaga tamu, dan ada juga yang mengurus hal-hal kecil lain yang sebenarnya sangat penting. Semua itu dilakukan supaya acara berjalan lancar dan tuan rumah tidak merasa sendirian.
Menurut saya, di situlah letak nasionalisme yang kadang tidak kita sadari. Musyawarah dan gotong royong dalam acara keluarga memang terlihat sederhana, tapi di dalamnya ada nilai kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab, dan semangat mendahulukan kepentingan bersama. Orang-orang datang membantu bukan karena dibayar, tapi karena merasa bahwa kalau ada keluarga atau tetangga yang punya acara, maka sudah sewajarnya dibantu. Dari kebiasaan seperti inilah saya melihat bahwa nasionalisme ternyata bisa tumbuh dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Oleh: Nirmala Hayaten, mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh
Menulis fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikan berita secara jelas serta berimbang.
Laporan Terkait
Evaluasi Qanun CSR Nagan Raya dan Rapor Merah HAM
Blok Andaman dan Urgensi Transparansi Dana Bagi Hasil Migas Aceh
Aceh dan Otsus Jilid II 2027, Mampukah Kesempatan Kedua Mengubah Masa Depan?
Masa Depan Aceh Setelah Dana Otsus Berakhir 2027, Siapkah Berdiri Mandiri?