Lompat ke Konten Utama

Sembilan Hektare Lahan Gambut Aceh Barat Membara

Miftah Allina
Petugas pemadam kebakaran berjuang melokalisir bara api bawah permukaan tanah di lahan gambut yang terbakar di Aceh Barat.
Petugas pemadam kebakaran berjuang melokalisir bara api bawah permukaan tanah di lahan gambut yang terbakar di Aceh Barat.

Kabupaten Aceh Barat didera krisis lingkungan serius menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan. Memasuki puncak musim kemarau, hamparan lahan gambut di wilayah ini mengering. Kondisi tersebut memicu api berkobar hebat dan menghanguskan vegetasi di atasnya. Kabut asap tebal berwarna putih pekat kini mulai menyelimuti ruang udara pemukiman. Jarak pandang perlahan menyusut. Napas warga mulai sesak.

Data mutakhir dari Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mengonfirmasi luasan area yang terdampak. Total lahan gambut yang terbakar kini telah menembus angka sembilan hektare. Amukan si jago merah tidak lagi memusat di satu titik. Api telah mengokupasi lima titik lokasi berbeda yang tersebar secara sporadis di tiga wilayah kecamatan yang rawan.

Kecamatan Samatiga menjadi wilayah terdampak paling parah dengan akumulasi kerusakan mencapai enam hektare. Lahan kering di Desa Cot Seumeureung dan Desa Paya Lumpat masing-masing menyumbang rapor merah seluas tiga hektare. Angin kencang berhembus liar. Situasi ini membuat lidah api dengan cepat melompati sekat-sekat alam. Api kemudian merembet dan menginfeksi kawasan tetangga di Kecamatan Johan Pahlawan. Di sana, dua hektare lahan di Jalan Ujong Beurasok dan setengah hektare di Desa Lapang hangus menjadi arang.

Petaka belum berhenti. Setengah hektare lahan gambut di Desa Gunong Kleng, Kecamatan Meureubo, juga ikut membara. Lokasi terakhir ini memicu kepanikan tersendiri. Mengapa? Jarak titik api berada pada posisi yang sangat dekat dengan batas terluar pemukiman warga. Skenario terburuk membayang. Api sewaktu-waktu bisa melahap rumah penduduk.

Siasat Selang Estafet di Atas Tanah Membara

Memadamkan kebakaran di lahan gambut tidak semudah menyiram permukaan tanah yang terbakar. Ini adalah pertarungan melawan smoldering. Bara api bawah permukaan. Api bersembunyi di kedalaman tanah, memakan material organik kering, dan menyemburkan asap beracun tanpa terlihat dari atas. Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengungkapkan bahwa tim gabungan dari unsur BPBD, TNI, Polri, serta relawan masyarakat harus memeras keringat lebih deras.

Pasukan pemadam berkejaran dengan waktu. Hambatan terbesar mereka adalah krisis air yang mencekik. Sumber air di sekitar area gambut yang terbakar telah menyusut drastis, bahkan mengering total akibat kemarau. Petugas terpaksa merangkai dan menyambung selang pompa secara estafet dalam jarak yang ekstrem. Strategi ini diambil demi mengalirkan pasokan air dari sumber penampungan terdekat yang posisinya berada sangat jauh di luar zona kebakaran. Armada tangki penyuplai air dikerahkan tanpa henti untuk menyuntikkan likuida ke jantung pertahanan api.

Upaya maraton tersebut mulai membuahkan hasil di beberapa sektor. Operasi pemadaman di Desa Gunong Kleng kini telah mencapai progress kemajuan hingga 95 persen. Meski demikian, petugas tidak berani beranjak dari lokasi. Fase pengawasan ketat dan pendinginan terus dilakukan demi memastikan tidak ada bara tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa memicu letupan api baru akibat embusan angin. Sebaliknya, tensi tinggi masih terjadi di kawasan Ujong Beurasok dan Desa Lapang, tempat di mana angin kencang terus mempersulit proses lokalisir pergerakan api.

Dugaan kuat mengarah pada faktor kelalaian manusia di samping faktor alam yang ekstrem. Pihak kepolisian setempat bersama Pemerintah Daerah Aceh Barat kini tengah melancarkan penyelidikan mendalam. Indikasi kuat mengarah pada tindakan ilegal oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja membersihkan dan membuka lahan perkebunan sawit baru dengan metode pembakaran vegetasi secara instan. Di sisi lain, ancaman tidak hanya datang dari hutan. Cuaca panas ekstrem juga memicu kerentanan di sektor domestik, terbukti dengan ludesnya satu unit toko fotokopi di Kecamatan Woyla akibat korsleting listrik yang menimbulkan kerugian material hingga Rp300 juta. Badan Pengendalian Bencana Aceh (BPBA) langsung mengeluarkan instruksi tegas agar warga di kawasan padat penduduk Meulaboh segera melakukan peremajaan instalasi listrik rumah mereka sebelum petaka lain kembali datang melanda.

Bagikan Laporan:
WhatsApp
Miftah Allina
Pewarta Redaksi

Miftah Allina

Menulis fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikan berita secara jelas serta berimbang.

ara - Layanan AI. V1

ara

Layanan AI.V1